Data Amburadul, Ribuan Anak di Pandeglang Putus Sekolah

- Penulis

Minggu, 14 Desember 2025 - 20:48

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO ILUSTRASI anak Putus Sekolah. (Istimewa)

FOTO ILUSTRASI anak Putus Sekolah. (Istimewa)

DAILYHITS — Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, Banten, menekan angka anak tidak sekolah atau anak putus sekolah (ATS) masih menghadapi kendala serius. Meski pemerintah daerah mengklaim terjadi penurunan, kekacauan data antarinstansi dinilai menjadi penghambat utama tercapainya target nol ATS.

Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Pandeglang mencatat, hingga akhir tahun ajaran 2024–2025 masih terdapat sekitar 2.000 anak berstatus ATS. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya, namun dinilai masih jauh dari target ideal yang dicanangkan pemerintah daerah.

Sekretaris Disdikpora Pandeglang, Nono Suparno, mengakui bahwa menuntaskan persoalan ATS bukan perkara mudah. Berbagai faktor, mulai dari kondisi geografis, sosial ekonomi, hingga budaya pendidikan masyarakat, saling berkaitan dan memperumit penanganan.

“Angka putus sekolah itu berjalan terus. Di daerah seperti Pandeglang, ATS tidak akan habis meskipun kita sudah berusaha maksimal,” ujar Nono dikutip, Minggu (14/12/2025).

Selain faktor ekonomi dan wilayah, fenomena perpindahan siswa ke pondok pesantren juga turut memengaruhi angka ATS. Banyak pesantren belum terdaftar sebagai lembaga pendidikan formal, sehingga siswa yang melanjutkan pendidikan di sana tetap tercatat sebagai anak tidak sekolah dalam sistem pemerintah.

Baca Juga :  Tolong! Rumah Janda Tua di Lebak Terbakar saat Tengah Malam

Untuk mengatasi hal tersebut, Disdikpora mendorong masyarakat memilih pesantren yang menyediakan jalur pendidikan kesetaraan, seperti Paket B dan Paket C melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), agar peserta didik tetap terdata dalam sistem pendidikan nasional.

Namun demikian, persoalan paling krusial justru terletak pada ketidaksinkronan data administrasi. Perbedaan data antara Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) kerap memunculkan data ATS yang tidak akurat.

“Angka ATS itu tidak semuanya benar-benar tidak sekolah. Ada yang muncul karena datanya tidak valid, seperti perbedaan penulisan nama atau NIK, padahal anaknya masih bersekolah,” kata Nono.

Kondisi tersebut berdampak pada tidak tepatnya sasaran program penanganan ATS. Pemerintah daerah dinilai lebih sibuk mengejar angka ketimbang menyelesaikan akar persoalan. Untuk itu, Disdikpora kini menggandeng Dukcapil guna melakukan verifikasi dan sinkronisasi data lintas sektor.

Baca Juga :  Bupati Iti Hadir di Acara Natal Bersama: Kita Saudara dalam Kemanusiaan

Di sisi lain, strategi jemput bola melalui PKBM terus diperkuat untuk menjangkau anak-anak yang berada di luar jalur pendidikan formal. PKBM diposisikan sebagai penghubung antara negara dan masyarakat yang kesulitan mengakses pendidikan reguler.

“PKBM adalah jantung pendidikan masyarakat. Mereka dikelola oleh masyarakat, tetapi dilindungi Disdikpora. Kami berharap PKBM bisa menjadi penghubung antara pemerintah dan siswa jalur nonformal,” ujarnya.

Nono juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam memastikan anak menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah. Menurutnya, wajib belajar 12 tahun bukan sekadar program pemerintah, melainkan fondasi utama bagi kesejahteraan generasi mendatang.

“Tanpa pengetahuan yang cukup, kesejahteraan masa depan tidak akan tercapai. Pendidikan ini adalah hak sekaligus kewajiban,” tuturnya.

Meski berbagai langkah telah dilakukan, Pemkab Pandeglang mengakui target nol ATS masih sulit diwujudkan selama persoalan validitas dan sinkronisasi data belum diselesaikan secara menyeluruh. ***

Berita Terkait

Kabar baik! Masyarakat Kini Tak Mesti ke Dukcapil, Layanan Adminduk Sudah Ada di Desa
Pupuk dan Ketahanan Pangan: Mata Rantai yang Tak Boleh Terputus
Herfio Zaki Jadi Dirreskrimum Polda Banten, Jasa Raharja Muda Beri Apresiasi
Seren Taun Cisungsang Kembali Tembus KEN 2026
Kekeringan Melanda, 16.000 Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Desa Ragas
Belanja Tenaga Ahli Rp55,47 Miliar Dipakai untuk Honor Lembaga di Banten
Jelang HUT Ke-81 RI, BNN Musnahkan 12 Hektare Ladang Ganja di Nagan Raya
HUT RI ke-81 Kecamatan Cibadak, Ratusan Peserta Gebyar Lari 5 Kilometer

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 23:00

Kabar baik! Masyarakat Kini Tak Mesti ke Dukcapil, Layanan Adminduk Sudah Ada di Desa

Selasa, 1 September 2026 - 22:40

Pupuk dan Ketahanan Pangan: Mata Rantai yang Tak Boleh Terputus

Selasa, 1 September 2026 - 06:40

Herfio Zaki Jadi Dirreskrimum Polda Banten, Jasa Raharja Muda Beri Apresiasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 09:58

Seren Taun Cisungsang Kembali Tembus KEN 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:48

Kekeringan Melanda, 16.000 Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Desa Ragas

Berita Terbaru

Serentaun Cisungsang, di Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. (Istimewa)

Berita Terbaru

Seren Taun Cisungsang Kembali Tembus KEN 2026

Senin, 31 Agu 2026 - 09:58