DAILYHITS – Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak menghadapi sejumlah persoalan serius dalam pengelolaan sampah, mulai dari keterbatasan armada, membengkaknya biaya operasional bahan bakar minyak (BBM), hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Kepala DLH Kabupaten Lebak, Irvan Suyatupika, mengatakan persoalan sampah masih menjadi tantangan terbesar yang dihadapi pihaknya. Hal itu disampaikan saat audiensi bersama pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Lebak, Selasa (19/5/2026).
“Persoalan paling berat itu sampah. Selama masyarakat masih membuang sampah sembarangan, penanganannya akan sulit,” kata Irvan kepada awak media.
Ia menjelaskan, DLH saat ini hanya memiliki satu unit kendaraan tim saber kebersihan yang bertugas membersihkan titik-titik rawan sampah di wilayah perkotaan.
Di sisi lain, biaya operasional pengangkutan sampah juga mengalami lonjakan signifikan akibat perubahan penggunaan BBM dari biosolar ke BBM non-subsidi.
“Dulu biaya BBM sekitar Rp90 juta per bulan. Sekarang bisa mencapai Rp200 juta per bulan,” ujarnya.
Menurut Irvan, kendaraan pengangkut sampah seharusnya mendapat pengecualian penggunaan BBM subsidi sesuai surat edaran Kementerian ESDM. Namun, proses pengurusan barcode BBM hingga kini masih mengalami kendala.
“Sudah hampir sebulan kami urus barcode, tetapi sering ditolak,” katanya.
Irvan mengungkapkan, produksi sampah di Kabupaten Lebak diperkirakan mencapai 600 ton per hari. Namun, jumlah sampah yang mampu diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru sekitar 250 ton per hari.
“Sisanya dibakar, dipendam, atau dibuang sembarangan,” ungkapnya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya







