Deklarasi Dini atau Sinyal Politik?

- Penulis

Senin, 28 September 2026 - 21:03

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mastur Huda. (Dok. Pribadi)

Mastur Huda. (Dok. Pribadi)

Menariknya, Seren Taun sendiri merupakan ruang yang memiliki legitimasi tradisional sangat kuat di tengah masyarakat adat. Ketika pernyataan mengenai calon pemimpin masa depan muncul dalam ruang tradisional tersebut, terjadi pertemuan antara legitimasi adat, popularitas tokoh, dan kekuatan politik modern.

Di sinilah teori Michel Foucault mengenai kekuasaan juga relevan. Foucault memandang kekuasaan bukan semata-mata sesuatu yang berada di tangan satu orang atau satu institusi. Kekuasaan bekerja melalui relasi sosial, wacana, pengetahuan, institusi, serta berbagai praktik yang membentuk cara masyarakat melihat suatu persoalan.

Dengan perspektif itu, pernyataan Ade Sumardi dapat dibaca sebagai sebuah wacana politik. Ketika seorang elite partai berbicara tentang kriteria pemimpin ideal, seperti visioner, mampu berpikir ke depan, dan tidak mengutamakan kepentingan pribadi, maka secara bersamaan ia sedang membangun ukuran mengenai seperti apa sosok pemimpin yang dianggap layak untuk masa depan Lebak.

Namun, sampai titik ini, belum ada pernyataan resmi yang secara eksplisit menyebut bahwa PDI Perjuangan sedang mencalonkan Nabil dan Jun sebagai pasangan untuk Pilkada Lebak berikutnya. Karena itu, penyebutan keduanya lebih tepat dipandang sebagai sinyal politik atau wacana awal yang masih membutuhkan perkembangan dan konfirmasi lebih lanjut.

Baca Juga :  Bupati Hasbi Tunjuk Firman Rahmatullah Jadi Plt Direktur RSUD Adjidarmo

Meski demikian, peristiwa di Guradog telah membuka ruang spekulasi mengenai arah politik PDI Perjuangan di Lebak.

Pertama, pernyataan Ade dapat ditafsirkan sebagai sinyal adanya evaluasi internal terhadap arah kepemimpinan Lebak. Ditambah lagi ada dugaan keretakan hubungan antara PDI Perjuangan sebagai partai pengusung dengan Hasbi Jayabaya.

Kedua, pernyataan tersebut bisa saja merupakan bentuk evaluasi politik terhadap kinerja pemerintahan selama lebih dari satu tahun berjalan. Dalam evaluasi PDIP, mungkin ada ketidakpuasan partai terhadap performa pemerintahan.

Ketiga, PDI Perjuangan mungkin sedang membuka ruang regenerasi dan memetakan figur yang dianggap memiliki kapasitas untuk dipersiapkan menghadapi kontestasi politik mendatang.

Kemungkinan ketiga ini menjadi menarik karena politik tidak selalu dimulai ketika tahapan pemilu atau pilkada dibuka. Pemetaan tokoh, pembentukan jaringan, penguatan basis sosial, serta pembangunan citra kepemimpinan dapat berlangsung jauh sebelum kontestasi resmi dimulai.

Untuk itu, apa yang terjadi di Guradog bisa saja menjadi semacam deklarasi dini, tetapi belum dapat disebut sebagai deklarasi pencalonan secara resmi.

Baca Juga :  Ribuan Kepala Sekolah di Lebak Ikuti Pembinaan, Bupati Hasbi Wanti-wanti soal Pungutan Liar

Apalagi, politik Lebak memiliki sejarah panjang mengenai hubungan antara figur, partai, keluarga politik (dinasti), jaringan sosial, dan basis masyarakat. Dalam situasi seperti itu, kemunculan dua nama sekaligus di ruang publik tentu akan memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang sedang membangun posisi dan untuk kepentingan kontestasi apa.

Pada akhirnya, pesan terpenting dari pernyataan Ade bukan semata-mata mengenai Nabil atau Jun. Pesan tersebut justru berada pada kata “pemimpin visioner”.

Jika benar gagasan itu hendak menjadi dasar pencarian pemimpin Lebak ke depan, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana visi tersebut diterjemahkan menjadi program, bagaimana kapasitas tokoh diuji, serta sejauh mana gagasan itu mendapatkan legitimasi masyarakat.

Sebab dalam politik, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang disebut lebih awal. Kekuasaan juga dibentuk oleh legitimasi, jaringan, organisasi, rekam jejak, kemampuan membangun kepercayaan, dan penerimaan masyarakat.

Guradog telah menjadi panggung awal. Apakah pernyataan tersebut hanya berhenti sebagai pernyataan politik di tengah Seren Taun, atau berkembang menjadi konfigurasi baru dalam perebutan kepemimpinan Lebak. Wallahualam.

Penulis: Mastur Huda, SE
Ketua Pokja Wartawan Lebak

Berita Terkait

Museum Multatuli: Belajar Sejarah dengan Cara Seru
Pupuk dan Ketahanan Pangan: Mata Rantai yang Tak Boleh Terputus
Nabil Mengubah Peta?
Media dan Politik
RUU Polri dan Ancaman Kembalinya Dwi Fungsi Aparat
Orang Desa Tidak Butuh Dolar: Jalan Kemandirian Pangan dari Leuit Banten untuk Indonesia
Ketika DPRD Mencuci Uang, Demokrasi Ikut Kotor
Pungli di Kampus: Korupsi Kecil yang Dibiarkan Tumbuh

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 21:03

Deklarasi Dini atau Sinyal Politik?

Rabu, 2 September 2026 - 20:20

Museum Multatuli: Belajar Sejarah dengan Cara Seru

Selasa, 1 September 2026 - 22:40

Pupuk dan Ketahanan Pangan: Mata Rantai yang Tak Boleh Terputus

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 19:37

Nabil Mengubah Peta?

Rabu, 22 Juli 2026 - 10:23

Media dan Politik

Berita Terbaru

Mastur Huda. (Dok. Pribadi)

OPINI

Deklarasi Dini atau Sinyal Politik?

Senin, 28 Sep 2026 - 21:03

Advertorial

Ucapan Milad Dailyhits “Dari Kreasi Jadi Inspirasi”

Senin, 28 Sep 2026 - 06:14

Ketua Kadin Banten, Moch. Azzari Jayabaya saat foto bersama dengan pengurus usai Rapimprov di Hotel Grand Keisha, Rangkasbitung. (Istimewa)

Berita Terbaru

Kadin Banten Buka Strategi UMKM Naik Kelas

Jumat, 25 Sep 2026 - 16:33