Blengbeng Miring 20 Derajat, Warga Cikeusik Hidup dalam Ketakutan

- Penulis

Selasa, 9 Desember 2025 - 08:29

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga dan anak sekolah ketika melintas di Jembatan Blengbeng. (Istimewa)

Warga dan anak sekolah ketika melintas di Jembatan Blengbeng. (Istimewa)

DAILYHITS – Setiap pagi, derap langkah anak-anak sekolah di Desa Cikeusik, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, berubah menjadi perjalanan penuh kecemasan. Mereka harus meniti Jembatan Blengbeng -jembatan kayu sepanjang 52 meter yang kini miring hingga sekitar 20 derajat akibat lapuk dimakan usia-.

Berdiri di atas Sungai Cikayang, jembatan itu sebenarnya menjadi urat nadi aktivitas warga. Namun kerusakannya yang terus berulang membuatnya justru berubah menjadi ancaman. Kayu-kayu penopang melengkung, paku menonjol, dan permukaan papan licin saat hujan. Setiap langkah di atasnya terasa seperti perjudian.

Danramil 0116/Cikeusik Kapten Inf Purgiarto, yang turun langsung meninjau kondisi di lapangan, menyebut kondisi jembatan kian memprihatinkan.

“Konstruksi jembatan sudah miring 20 derajat dan jelas membahayakan keselamatan jiwa anak sekolah maupun warga,” ujarnya, Senin 8 Desember 2025.

Baca Juga :  Duh, Dua Tahun Pelajar SD Negeri di Pandeglang Terpaksa Belajar di Musala

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Pada 2022, jembatan ini pernah ambruk dan dua warga terjun ke sungai bersama sepeda motornya. Mereka mengalami luka serius. Meski sudah lima kali diperbaiki secara swadaya oleh warga bersama perangkat desa, TNI, dan Polri, kerusakan kembali terjadi karena material yang digunakan seadanya.

Purgiarto menambahkan, tragedi masih berlanjut. “Pada Mei 2025, seorang warga harus mendapatkan 17 jahitan setelah terjatuh di jembatan. Ini sangat miris,” katanya.

Jika jembatan putus total, warga harus memutar 2,5 kilometer melalui jalan licin berbatu -jalur yang juga tidak kalah berbahaya, terutama saat musim hujan-.

Rudi, warga setempat, mengakui bahwa rasa trauma mulai menghantui masyarakat.“Setiap musim hujan, jembatan makin licin. Kami sudah berkali-kali memperbaiki, tapi karena strukturnya tidak permanen, cepat rusak lagi,” ujarnya.

Baca Juga :  Perbaikan Jembatan Gantung Parakanbeusi Ditolak Warga, Ada Apa?

Harapan besar pun menggantung pada pemerintah agar segera membangun jembatan permanen demi keselamatan dan kelancaran aktivitas warga, khususnya petani dan pelaku usaha yang bergantung pada akses itu.

Di balik semua angka dan keterangan, suara paling jujur datang dari seorang siswi bernama Sani. Dengan suara pelan, ia mengungkapkan ketakutannya.

“Saya takut karena banyak teman yang kepeleset. Kalau hujan, saya pilih memutar, walau jauh,” tuturnya.

Setiap hari, jembatan itu tetap dilewati. Setiap hari pula ancaman yang sama kembali menghantui. Warga Cikeusik menanti, kapan akses vital itu berubah dari jembatan penuh risiko menjadi jembatan yang benar-benar layak dan aman. ***

Berita Terkait

Rp55,47 Miliar Belanja Tenaga Ahli Disorot, Pergub SHS Banten Perluas Rekening 0029 untuk Honor Lembaga
Teken MoU, Bawaslu Lebak dan DP3AP2KB Perkuat Pencegahan Kekerasan Seksual
300 Massa AKAMSI Geruduk ATR/BPN, Desak HGB 70-71 Sanur Tak Diperpanjang
Museum Multatuli: Belajar Sejarah dengan Cara Seru
RDF Indah Kiat Berkapasitas 8.100 Ton, Wamenko: Harus Dimanfaatkan Atasi Sampah Serang
Kabar baik! Masyarakat Kini Tak Mesti ke Dukcapil, Layanan Adminduk Sudah Ada di Desa
Pupuk dan Ketahanan Pangan: Mata Rantai yang Tak Boleh Terputus
Herfio Zaki Jadi Dirreskrimum Polda Banten, Jasa Raharja Muda Beri Apresiasi

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 16:11

Rp55,47 Miliar Belanja Tenaga Ahli Disorot, Pergub SHS Banten Perluas Rekening 0029 untuk Honor Lembaga

Kamis, 3 September 2026 - 19:01

Teken MoU, Bawaslu Lebak dan DP3AP2KB Perkuat Pencegahan Kekerasan Seksual

Rabu, 2 September 2026 - 23:00

300 Massa AKAMSI Geruduk ATR/BPN, Desak HGB 70-71 Sanur Tak Diperpanjang

Rabu, 2 September 2026 - 20:20

Museum Multatuli: Belajar Sejarah dengan Cara Seru

Rabu, 2 September 2026 - 13:22

RDF Indah Kiat Berkapasitas 8.100 Ton, Wamenko: Harus Dimanfaatkan Atasi Sampah Serang

Berita Terbaru