DAILYHITS – Pemerintah Kabupaten Lebak terus mendorong pemerataan pembangunan dengan menghadirkan Agrowisata Cikapek di Desa Lebak Parahiyang, Kecamatan Leuwidamar. Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus destinasi unggulan di wilayah tengah Kabupaten Lebak.
Selama ini, wilayah tengah Lebak kerap tertinggal dibandingkan Lebak Utara dan Selatan. Minimnya infrastruktur, akses terbatas, serta tingginya angka kemiskinan menjadi tantangan utama. Melalui pembangunan Agrowisata Cikapek, Pemkab Lebak berupaya menghidupkan kembali denyut ekonomi masyarakat setempat.
Agrowisata Cikapek merupakan bagian dari visi pembangunan “Lebak Ruhay” dengan luas kawasan mencapai 52 hektare. Lokasinya sangat strategis karena berada di jalur wisata Rangkasbitung–Baduy, sehingga diharapkan menjadi titik singgah wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan Baduy.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Yosep M Holis, mengatakan kawasan ini dirancang sebagai area terpadu, bukan sekadar destinasi wisata biasa.
“Konsepnya sebagai rest area. Wisatawan dan agen perjalanan akan diarahkan untuk transit di Agrowisata Cikapek sebelum menuju Baduy,” ujar Yosep, dikutip Senin (15/12/2025).
Dalam masterplan pembangunan, Agrowisata Cikapek dibagi menjadi 12 zonasi. Beberapa di antaranya meliputi zona pendidikan dan penelitian pertanian-perkebunan, pengembangan komoditas unggulan seperti kopi dan gula aren, pusat ekonomi kreatif, area UMKM, hingga zona khusus pariwisata.
Selain itu, kawasan ini juga diusulkan sebagai lokasi pembangunan Sekolah Garuda, sekolah unggulan bertaraf internasional. Pemkab Lebak telah menyiapkan lahan seluas 20 hektare untuk mendukung rencana tersebut.
“Jika terealisasi, dampak ekonominya akan sangat besar bagi wilayah tengah Lebak,” kata Yosep.
Sementara itu, Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak, Usep Suparno, menyampaikan bahwa pembangunan tahap pertama Agrowisata Cikapek telah mencapai 95 persen.
“Pembangunan sudah hampir rampung. Saat ini tinggal tahap finishing,” ujarnya.
Fasilitas utama yang telah dibangun meliputi area parkir, gedung kuliner, jalan inspeksi, toilet, gerbang kawasan, TPT, serta saluran drainase. Pembangunan dilakukan secara bertahap sejak 2024 dan ditargetkan selesai pada akhir Desember 2025.
“Target awal 2026, sekitar Januari atau Februari, Agrowisata Cikapek akan diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Lebak,” jelas Usep.
Meski progres pembangunan cukup signifikan, Yosep mengakui proyek ini menghadapi keterbatasan anggaran. Total kebutuhan dana diperkirakan mencapai Rp50–60 miliar. Pada tahap awal, pembangunan didukung anggaran sekitar Rp4 miliar, dilanjutkan tahap kedua sebesar Rp8 miliar, serta bantuan dari Pemerintah Provinsi Banten.
“Untuk saat ini kami fokus pada infrastruktur dasar seperti lanskap masjid, jalan, serta sistem mekanikal dan elektrikal,” ungkap Yosep.
Setelah infrastruktur dasar rampung, Pemkab Lebak akan membuka peluang investasi bagi pihak swasta untuk mengembangkan zona-zona lainnya sesuai masterplan.
Terkait status lahan, Yosep memastikan tidak ada kendala hukum. Lahan Agrowisata Cikapek merupakan bekas HGU swasta yang telah resmi dialihkan ke Pemkab Lebak dan tersertifikasi secara digital oleh ATR.
“Proyek ini bukan hanya untuk meningkatkan PAD, tetapi menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Lebak Utara tumbuh dengan tol dan kereta api, Lebak Selatan dengan pariwisata dan kelautan, sementara wilayah tengah kini mulai bangkit melalui Agrowisata Cikapek,” tutup Yosep.
Dengan konsep terpadu dan progres pembangunan yang hampir rampung, Agrowisata Cikapek diharapkan menjadi katalis kebangkitan ekonomi sekaligus ikon baru pariwisata Kabupaten Lebak. ***







