“Pengukuran stunting melalui aplikasi SIGIZI KESGA dilakukan secara digital melalui pencatatan data antropometri balita yang otomatis menghitung status gizi anak berdasarkan standar deviasi (Z-score) setelah petugas menginput data fisik anak,” jelas Efrizal.
Meski demikian, angka prevalensi stunting Kabupaten Serang yang mengacu pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) masih menggunakan data 2024, yakni 20,2 persen. Hal ini karena survei SSGI untuk 2026 belum dilaksanakan.
Pemerintah Kabupaten Serang menetapkan target prevalensi stunting sebesar 17,5 persen pada 2026 berdasarkan pengukuran SSGI. Pencapaian target tersebut nantinya perlu dilihat melalui hasil survei yang menjadi acuan resmi.
Keterbatasan anggaran paling terlihat dalam penanganan balita dengan gizi kurang. Dari 4.006 balita yang tercatat mengalami kondisi tersebut sepanjang Januari hingga September 2026, baru 606 balita yang memperoleh PMT pemulihan berbasis pangan lokal selama 56 hari.
Program itu didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Puskesmas. Keterbatasan pembiayaan menyebabkan intervensi belum dapat diberikan kepada seluruh balita yang membutuhkan.
“Jumlah gizi kurang dari Januari sampai dengan September 2026 sebanyak 4.006 anak dari 111.567 balita. Namun, belum semua mendapat intervensi gizi berupa PMT pemulihan pangan lokal selama 56 hari karena keterbatasan anggaran. Baru sebanyak 606 balita yang mendapatkan intervensi,” tutur Efrizal.
Ia menambahkan, penanganan masalah gizi juga dapat diintegrasikan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Integrasi program tersebut diharapkan dapat memperluas dukungan pemenuhan gizi sekaligus memperkuat kerja sama antarpihak. Pelaksanaannya tetap memerlukan koordinasi, ketepatan sasaran, serta pemantauan agar bantuan diterima kelompok yang benar-benar membutuhkan.
Bagi Pemerintah Kabupaten Serang, penurunan stunting dan perbaikan status gizi anak membutuhkan upaya berkelanjutan, mulai dari pendataan, edukasi keluarga, pelayanan kesehatan, hingga dukungan pemulihan gizi.
Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu pendekatan yang ditempuh untuk memperluas jangkauan layanan. Di sisi lain, kecukupan anggaran dan pemerataan intervensi tetap menjadi faktor penting agar upaya tersebut dapat menjangkau lebih banyak balita.
Dengan penguatan layanan kesehatan, pendataan yang akurat, serta dukungan lintas sektor, Pemerintah Kabupaten Serang berupaya memastikan penanganan stunting dan masalah gizi anak berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. (Adv)
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2






