DAILYHITS.ID – Pemerintah Kabupaten Serang melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, memperkuat pelayanan kesehatan dan kolaborasi lintas sektor untuk menekan stunting, gizi buruk, dan gizi kurang pada balita.
Dinas Kesehatan Kabupaten Serang mencatat, sebanyak 2.679 balita mengalami stunting berdasarkan pendataan dalam aplikasi SIGIZI KESGA tahun 2026. Jumlah itu berasal dari total sasaran 111.567 balita atau sekitar 2,4 persen.
Pada saat yang sama, terdapat 294 balita yang tercatat mengalami gizi buruk selama Januari hingga September 2026. Seluruh balita dalam kelompok tersebut dilaporkan telah mendapatkan intervensi.
Adapun kasus gizi kurang masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian lebih luas. Dalam periode yang sama, Dinas Kesehatan Kabupaten Serang mencatat 4.006 balita mengalami gizi kurang. Dari jumlah tersebut, baru 606 balita yang memperoleh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan berbasis pangan lokal selama 56 hari.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang Efrizal mengatakan, pemerintah daerah berupaya memaksimalkan sumber daya yang tersedia, termasuk melalui pemerataan tenaga kesehatan dan peningkatan keterlibatan berbagai pihak dalam pelayanan kesehatan.
“Memaksimalkan tenaga yang ada, pemerataan tenaga sesuai kondisi yang ada, serta mendorong pihak luar untuk berkontribusi di bidang kesehatan dengan mendirikan klinik, apotek, praktik dokter mandiri, praktik bidan mandiri, dan rumah sakit,” kata Efrizal, Kamis (22/10/2026).
Menurut Efrizal, keterbatasan kemampuan fiskal daerah membuat pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan dan perluasan layanan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas anggaran. Karena itu, pemerintah daerah juga mengupayakan dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki kemampuan pembiayaan.
“Kami juga berupaya, walaupun dengan jumlah terbatas, melakukan pengangkatan tenaga kesehatan melalui BLUD yang sudah mampu dari sisi finansial. Kami juga mengusulkan kepada pemerintah pusat atau provinsi untuk pengangkatan tenaga khusus serta melibatkan semua unsur di luar kesehatan agar ikut berperan sesuai bidang masing-masing,” ujarnya.
Efrizal menjelaskan, penanganan stunting dan masalah gizi tidak cukup dilakukan melalui penguatan tenaga kesehatan. Dinas Kesehatan juga melakukan penjaringan balita yang mengalami masalah gizi, memberikan edukasi kepada keluarga, menyediakan pengobatan sesuai kondisi anak, serta menyalurkan bantuan makanan khusus bagi sasaran yang membutuhkan.
“Kami terus berupaya menjaring anak-anak yang statusnya seperti itu, kemudian memberikan edukasi dan pengobatan bagi yang terpapar penyakit, memberikan bantuan berupa makanan khusus, serta bekerja sama lintas sektor untuk mendukung hal tersebut,” katanya.
Dalam pendataan stunting, Dinas Kesehatan menggunakan aplikasi SIGIZI KESGA yang memungkinkan petugas mencatat hasil pengukuran antropometri atau ukuran fisik balita. Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan status gizi anak berdasarkan standar deviasi atau Z-score.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 Selanjutnya






