“Ide awalnya bagaimana kita membuat sebuah karya yang dekat dengan masyarakat, tetapi tetap membawa pesan tentang Merah Putih, perjuangan dan rasa cinta kepada Indonesia. Karena itu kami mencoba menuangkannya dalam bentuk film,” ujar Herman.
Menurutnya, proses produksi juga menjadi ruang bagi warga, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan kreativitas melalui karya audiovisual.
Sejumlah warga yang sebelumnya belum memiliki pengalaman membuat film ikut terlibat dalam proses pemeranan, pengambilan gambar, penghayatan karakter hingga pekerjaan teknis di lapangan.
Salah seorang pemain mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti proses produksi. Awalnya, ia hanya mengikuti ajakan untuk bermain dalam film tersebut.
“Awalnya kami hanya ikut karena diajak. Tetapi setelah menjalani prosesnya, ternyata membuat film membutuhkan kerja sama dan kesabaran. Kami senang bisa ikut terlibat dan mudah-mudahan hasilnya bisa diterima masyarakat,” tuturnya.
Proses pengambilan gambar dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar dan melibatkan masyarakat setempat. Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses produksi film yang dikerjakan secara gotong royong.
Hingga Selasa (11/8/2026), film “Sang Saka Merah Putih” masih dalam tahap persiapan sebelum dipertontonkan kepada masyarakat.
Para penggagas menargetkan film tersebut tayang pada 17 Agustus 2026 di Alun-Alun Tapos Caang, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Melalui film tersebut, pemuda dan warga Tapos Caang berharap semangat gotong royong, kreativitas, perjuangan dan kecintaan terhadap Merah Putih dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. ***
Halaman : 1 2







