DAILYHITS.ID – Ada aroma kuasa yang menyusup di balik kontestasi pemilihan Ketua KONI Provinsi Banten. Mahasiswa Universitas Primagraha, Dansi Marwan, menyoroti proses ini rawan ditunggangi titipan kepentingan, jauh dari semangat transparansi dan sportifitas yang seharusnya dijunjung lembaga olahraga.
Menurut Salah satu Mahasiswa UPG, Dansi Marwan, pemilihan Ketua KONI tidak boleh dikendalikan relasi kuasa.
“KONI seharusnya menjadi teladan dalam menjunjung sportifitas. Jika proses pemilihan dipenuhi relasi kuasa, maka nilai-nilai itu hilang, dan justru memberikan contoh buruk bagi generasi muda yang berkiprah di bidang olahraga,” ujarnya denis kepada wartawan teruang dalam tulisan, (21/9/2025.
Sikap kritis itu muncul setelah muncul kabar yang dikutip dari Satelit News. Wakil Ketua III KONI Banten, Abdul Salam, mengaku awalnya hendak mengusung Ketua Umum Pengprov PBSI Banten, Sudarto Adinagoro.
Namun, dalam prosesnya muncul nama Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, yang sempat berniat maju sebelum akhirnya meminta Salam untuk menggantikannya.
“Di situ saya juga sudah berbagai macam alasan untuk menolak. Tapi karena mungkin ini sudah jalan Tuhan yang harus saya jalani, ya akhirnya saya terima. Kan saya hanya menjalankan saja, skenario sudah ditulis sutradara terbaik,” kata Salam.
Dansi menegaskan, praktik titip-menitip kandidat seperti itu hanya mengikis nilai utama dari sebuah pemilihan.
Ia juga menyoroti peran Pelaksana Tugas (Plt) dan Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) agar menjalankan proses secara terbuka.
“Keterbukaan informasi publik dan akuntabilitas akan menjadi pondasi penting dalam menjaga marwah organisasi olahraga terbesar di daerah,” katanya.
Ia menutup dengan pesan lantang.
“Generasi muda, khususnya atlet dan mahasiswa yang aktif di bidang olahraga, membutuhkan teladan nyata dalam hal kejujuran, sportifitas, dan integritas. KONI Banten harus berdiri sebagai simbol semangat itu, bukan sekadar wadah kekuasaan.”pungkasnya.***







