“Proyek persampahan co-firing ini merupakan bahan bakar pendamping batu bara yang harganya sama dengan batu bara yang diterima PLTU,” jelasnya.
Dalam hal ini, Helldy mengaku, pihaknya membangun pabrik pengolaan sampah BBJP tersebut tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Cilegon.
“Kami mendapatkan bantuan hampir Rp 10 miliar dari PLTU dan PT PLN (Pembangkit Listri Negara). Jadi, kami tidak menggunakan APBD. Kami juga akan mendapatkan bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 102 miliar dengan kapasitas produksi sampah sebanyak 200 ton perhari. Kapasitas sampah di Cilegon sebanyak 200 sampai 230 ton perhari, sehingga InshaAllah kedepan Kota Cilegon akan mengalami devisit sampah,” ungkapnya.
Menurut Helldy, pembangunan pengelolaan sampah BBJP tersebut terinspirasi oleh peristiwa kebakaran sampah di Kota Cilegon pada tahun 2019 yang baru padam setelah 2 pekan. “Proyek ini kita laksanakan juga sesuai dengan Perpres (Peraturan Presiden) Nomor 35/2018 tentang Persampahan,” tuturnya.
Dikatakan Helldy, pada momen CSS XXII Akkopsi tersebut juga bisa dilihat proyek percontohan pengelolaan air bersih di Lingkungan Kepuh, Kecamatan Ciwandan yang langsung bisa diminum.
“CSS Akkopsi ini menjadi penting sebagai sarana untuk berbagai informasi. Kami ingin sekali sharing,” katanya. (Advertorial)
Halaman : 1 2







