Pemkab Lebak terus memperkuat pelayanan perizinan dan nonperizinan untuk menarik lebih banyak investor. Menurut Lingga, kemudahan perizinan berhasil memicu tumbuhnya aktivitas ekonomi baru dan membuka lapangan kerja.
Secara periodik, realisasi investasi tercatat:
- Semester I: Rp 272 miliar
- Semester II: Rp 273 miliar
- Semester III: Rp 377 miliar
Investasi hilirisasi didominasi sektor perkebunan dan kehutanan (Rp 45 miliar), disusul perikanan dan kelautan (Rp 9 miliar) serta mineral (Rp 2 miliar).
Berdasarkan sektor usaha, investasi di Lebak didominasi sektor tersier dengan nilai Rp 593 miliar (64%), disusul sektor sekunder Rp 196 miliar (22%) dan sektor primer Rp 133 miliar (14%).
Subsektor tertinggi meliputi:
- Telekomunikasi: Rp 253 miliar
- Perumahan & kawasan industri: Rp 133 miliar
- Perdagangan & reparasi: Rp 87 miliar
- Perikanan: Rp 68 miliar
- Industri lainnya: Rp 61 miliar
Lebak dinilai memiliki potensi sumber daya alam besar, mulai dari pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, hingga pariwisata. Potensi tersebut semakin kuat dengan hadirnya proyek strategis nasional (PSN), seperti Tol Serang–Panimbang dan Commuter Line Rangkasbitung–Tanah Abang.
“PSN ini membuat Lebak makin diminati investor, terutama di sektor perumahan seperti kawasan Maja, Curugbitung, dan Rangkasbitung,” tuturnya.
Lima negara dengan penanaman modal tertinggi di Lebak sepanjang 2025 yaitu:
- Korea Selatan – Rp 57 miliar
- Malaysia – Rp 53 miliar
- Singapura – Rp 17 miliar
- Tiongkok – Rp 2 miliar
- Thailand – Rp 1 miliar
Lingga berharap peningkatan investasi yang konsisten akan mengungkit Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lebak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.***
Halaman : 1 2





