Dorongan agar forum pemuda tidak berhenti pada perdebatan juga disampaikan Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati.
Ia menyoroti kecenderungan perdebatan di media sosial maupun ruang publik yang kerap tidak menghasilkan komunikasi produktif. Padahal, perbedaan pendapat semestinya dapat menjadi pintu masuk untuk membangun dialog dan kerja sama.
“Satu hal yang saya sangat apresiasi kepada teman-teman Rembuk Pemuda, semangat untuk bisa membuka ruang berdiskusi, ruang untuk berkomunikasi di saat di mana di media sosial dan juga ruang umum banyak terjadi perdebatan,” kata Saraswati dalam forum Rembuk Pemuda di Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Saraswati, ruang dialog harus mampu mempertemukan anak muda dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan pandangan. Keberagaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling berhadapan, melainkan kekuatan untuk merumuskan gagasan bersama.
“Jadi ini ajang untuk pemuda-pemudi Indonesia dari segala latar belakang maupun warna dan segala ras, agama, suku itu bisa betul-betul dengan kebinekaannya, dengan pendapat mereka masing-masing itu bisa berembuk, bisa berdiskusi, tentunya dengan harapan bergerak dan berdampak,” ujarnya.
Saraswati juga mendorong ruang komunikasi antarpemuda diperluas hingga ke daerah. Dialog, menurutnya, tidak harus selalu berlangsung dalam forum formal. Kampus, kafe, dan ruang publik lainnya dapat menjadi tempat bertemunya generasi muda untuk membicarakan berbagai persoalan.
Namun, tantangan sesungguhnya bukan sekadar memperbanyak forum diskusi. Lebih dari itu, diperlukan tindak lanjut yang terukur agar gagasan tidak berhenti sebagai wacana.
Bagi Rembuk Pemuda Provinsi Banten, ukuran keberhasilan ruang dialog pada akhirnya bukan seberapa ramai perdebatan yang berlangsung, melainkan seberapa jauh gagasan yang dihasilkan mampu diterjemahkan menjadi rekomendasi, gerakan, dan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2






