Karena itu, dukungan terhadap santri dan lingkungan pesantren dinilai tetap diperlukan agar kontribusi tersebut dapat terus berkembang.
“Santri dan pesantren sangat konkret dalam kontribusinya memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Selama ini pula santri banyak mengisi kemerdekaan,” katanya.
Selain memberikan apresiasi kepada guru ngaji, Fauzi menyoroti pentingnya penertiban lembaga pendidikan yang mengatasnamakan pesantren.
Menurut dia, setiap lembaga yang menyatakan diri sebagai pesantren harus memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan, baik dari sisi persyaratan kelembagaan maupun penyelenggaraan pendidikan.
Ia menekankan pentingnya pemenuhan unsur-unsur pesantren, termasuk keberadaan masjid, kiai, asrama, dan kurikulum pendidikan pesantren. Kejelasan latar belakang keilmuan atau sanad kiai serta pelaksanaan pembelajaran, termasuk pengajaran kitab kuning, juga perlu menjadi perhatian.
“Kalau ada lembaga pendidikan mengaku pesantren, tetapi empat hal ini tidak terpenuhi, maka dia bukan pesantren. Ini yang harus terus kita sosialisasikan,” tegasnya.
Fauzi menjelaskan, istighotsah dan pemberian tali asih kepada guru ngaji merupakan agenda tahunan DPW PKB Banten dalam memperingati Hari Santri Nasional. Pada tahun-tahun sebelumnya, PKB mengadakan lomba kitab kuning dengan melibatkan para santri.
Namun, pada peringatan tahun ini, PKB memilih memberikan perhatian khusus kepada guru ngaji yang selama ini berperan dalam mempersiapkan anak-anak untuk menjadi generasi santri.
Ia mengatakan, sebagian guru ngaji di kampung-kampung menjalankan pengabdian tanpa memperoleh gaji, tunjangan, maupun jaminan pensiun.
Meski demikian, mereka tetap menjalankan kegiatan mengajar sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
“Mereka ini orang-orang mukhlisin, orang-orang ikhlas. Enggak pernah mengeluh. Mereka mengajar ngaji tanpa gaji, tanpa tunjangan, tanpa pensiun,” pungkasnya.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2






