Pelecehan Seksual di Kampus: Darurat Moral dan Gagalnya Perlindungan Institusi

- Penulis

Selasa, 16 Desember 2025 - 02:01

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiwa Universitas Pamulang (Unpam) Serang, Foto: (Ist/Dailyhits)

Mahasiwa Universitas Pamulang (Unpam) Serang, Foto: (Ist/Dailyhits)

DAILYHITS.ID – Kampus yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan berpikir kritis justru berulang kali tercoreng oleh kasus pelecehan seksual.

Ironisnya, pelaku kerap berasal dari lingkungan internal kampus sendiri dosen, tenaga kependidikan, senior, hingga sesama mahasiswa yang memiliki relasi kuasa terhadap korban.

Pelecehan seksual di lingkungan perguruan tinggi bukan persoalan insidental atau kesalahan individu semata.

Fenomena ini mencerminkan kegagalan institusional dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat, dan berkeadilan. Banyak korban memilih diam karena takut dikriminalisasi balik, disalahkan, dikucilkan, atau bahkan diancam secara akademik.

Budaya bungkam tersebut membuka ruang impunitas bagi pelaku. Kampus, yang seharusnya menjadi garda terdepan penegakan nilai keadilan dan kemanusiaan, justru kerap abai dengan dalih menjaga nama baik institusi. Akibatnya, korban menanggung trauma berkepanjangan, sementara pelaku tetap bebas berkeliaran.

Baca Juga :  Pupuk dan Ketahanan Pangan: Mata Rantai yang Tak Boleh Terputus

Pelecehan seksual jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan. Konstitusi melalui Pasal 28G ayat (1) UUD 1945 menegaskan hak setiap orang atas perlindungan diri pribadi, kehormatan, martabat, dan rasa aman.

Negara termasuk institusi pendidikan tinggi tidak boleh absen dari tanggung jawab tersebut.

Lebih tegas lagi, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) telah mengakui pelecehan seksual sebagai tindak pidana. Negara diwajibkan memberikan perlindungan, pemulihan, dan keadilan bagi korban.

Di sektor pendidikan tinggi, kewajiban itu dipertegas melalui Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 yang mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan seksual serta mewajibkan pembentukan Satuan Tugas PPKS.

Namun dalam praktiknya, penanganan kasus di kampus masih jauh dari perspektif korban (victim-centered approach).

Baca Juga :  Siapa yang Layak Mengisi Kursi Sekda Lebak?

Proses kerap tidak transparan, berlarut-larut, dan minim keberpihakan terhadap keadilan substantif. Korban diposisikan sebagai masalah, bukan sebagai pihak yang harus dilindungi.

Sudah saatnya kampus berhenti menjadi ruang aman bagi pelaku dan mulai menjadi ruang aman bagi korban. Penanganan kasus pelecehan seksual harus dilakukan secara serius, transparan, dan tanpa intervensi kepentingan struktural.

Sanksi tegas terhadap pelaku dan pemulihan menyeluruh bagi korban adalah keniscayaan, bukan pilihan.

Jika kampus gagal melindungi mahasiswanya dari kekerasan seksual, maka kampus telah gagal menjalankan mandat moral dan konstitusionalnya sebagai lembaga pendidikan.

Diam bukan sikap netral. Diam adalah bentuk keberpihakan pada pelaku. Dan membiarkan pelecehan seksual terus terjadi adalah bentuk kekerasan itu sendiri.

Opini.

Penulis : Erlis Nuryati

Prodi : Ilmu Hukum, Mahasiswa Universitas Pamulang Serang

Berita Terkait

Museum Multatuli: Belajar Sejarah dengan Cara Seru
Pupuk dan Ketahanan Pangan: Mata Rantai yang Tak Boleh Terputus
Nabil Mengubah Peta?
Media dan Politik
RUU Polri dan Ancaman Kembalinya Dwi Fungsi Aparat
Orang Desa Tidak Butuh Dolar: Jalan Kemandirian Pangan dari Leuit Banten untuk Indonesia
Ketika DPRD Mencuci Uang, Demokrasi Ikut Kotor
Pungli di Kampus: Korupsi Kecil yang Dibiarkan Tumbuh

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 20:20

Museum Multatuli: Belajar Sejarah dengan Cara Seru

Selasa, 1 September 2026 - 22:40

Pupuk dan Ketahanan Pangan: Mata Rantai yang Tak Boleh Terputus

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 19:37

Nabil Mengubah Peta?

Rabu, 22 Juli 2026 - 10:23

Media dan Politik

Sabtu, 20 Juni 2026 - 01:35

RUU Polri dan Ancaman Kembalinya Dwi Fungsi Aparat

Berita Terbaru